Kalimantan Timur, khususnya Kabupaten Kutai Timur, memiliki potensi besar sebagai pusat industri hilir kelapa sawit. Dengan lahan sawit seluas 529.586 hektar dan produksi lebih dari 6,5 juta ton CPO per tahun, wilayah ini menyediakan bahan baku melimpah bagi industri oleofood. Pengembangan difokuskan di KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) yang telah dilengkapi infrastruktur dasar, status lahan legal, serta dukungan pemerintah. Proyek oleofood seluas 8 hektar dirancang memproduksi hingga 900.000 ton minyak goreng per tahun, dengan akses langsung ke bahan baku dan pasar yang terus berkembang, baik lokal maupun global. Analisis finansial menunjukkan kelayakan tinggi: investasi Rp 3,048 triliun dengan pendapatan tahunan Rp 13,093 triliun, ROI 27,07%, serta Payback Period delapan tahun. Proyek ini berpotensi besar mendorong ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan UMKM. Insentif fiskal memperkuat daya saing dan profitabilitas, menjadikan proyek ini peluang investasi strategis untuk ekspor produk olahan kelapa sawit ke pasar Asia dan Eropa. Tantangan seperti fluktuasi harga CPO, infrastruktur pelabuhan, dan pengelolaan lingkungan telah diantisipasi melalui teknologi ramah lingkungan dan peningkatan kualitas SDM.
Provinsi Kalimantan Timur
Kalimantan Timur, khususnya Kabupaten Kutai Timur, memiliki potensi besar sebagai pusat industri hilir kelapa sawit. Dengan lahan sawit seluas 529.586 hektar dan produksi lebih dari 6,5 juta ton CPO per tahun, wilayah ini menyediakan bahan baku melimpah bagi industri oleofood. Pengembangan difokuskan di KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) yang telah dilengkapi infrastruktur dasar, status lahan legal, serta dukungan pemerintah. Proyek oleofood seluas 8 hektar dirancang memproduksi hingga 900.000 ton minyak goreng per tahun, dengan akses langsung ke bahan baku dan pasar yang terus berkembang, baik lokal maupun global. Analisis finansial menunjukkan kelayakan tinggi: investasi Rp 3,048 triliun dengan pendapatan tahunan Rp 13,093 triliun, ROI 27,07%, serta Payback Period delapan tahun. Proyek ini berpotensi besar mendorong ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan UMKM. Insentif fiskal memperkuat daya saing dan profitabilitas, menjadikan proyek ini peluang investasi strategis untuk ekspor produk olahan kelapa sawit ke pasar Asia dan Eropa. Tantangan seperti fluktuasi harga CPO, infrastruktur pelabuhan, dan pengelolaan lingkungan telah diantisipasi melalui teknologi ramah lingkungan dan peningkatan kualitas SDM.